ARTIKEL INI DI COPY PASTE DARI WEBSITE http://www.tumbuhsehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=130&Itemid=77
Bagian 1: Mencegah dan Menanggulanginya
Banyak orang tua yang senang jika anak yang gemuk karena alasan “lucu” atau “menggemaskan untuk dicubit”. Benarkah anak yang gemuk itu sehat? Atau justru berbahaya?
Obesitas: masalah kesehatan global?
Obesitas merupakan suatu masalah kesehatan yang telah menjadi pandemi. Satu miliar penduduk di bumi mengalami obesitas. Jumlah kasus ini sudah melebihi jumlah kasus malnutrisi. Demikian pula pada anak. Dalam 30 tahun terakhir saja, ditemukan peningkatan kasus berat badan berlebih pada anak sebanyak 3 kali lipat. Sebanyak 22 juta balita di dunia memiliki berat badan lebih.

Faktor yang menyebabkan obesitas
Gaya hidup anak-anak yang menghabiskan sebagian besar waktu di sekolah dan di tempat kursus, dapat berpengaruh pada kejadian obesitas. Mereka jadi jarang beraktivitas fisik karena terus-menerus duduk. Hal ini masih ditambah dengan maraknya rumah makan siap saji dan menjamurnya ketersediaan layanan televisi, video, permainan, komputer, serta internet. Akibatnya anak tidak punya waktu atau pun kurang tertarik pada permainan-permainan yang dominan melibatkan aktivitas fisik.
Selain faktor-faktor gaya hidup dan makanan, anak juga dapat menjadi obesitas karena konsumsi obat-obatan yang efek sampingnya meningkatkan berat badan. Sebagian kecil anak mengalami obesitas karena penyakit genetik/bawaan.
Bahaya obesitas

Dampak buruk obesitas bagi anak-anak sama halnya dengan obesitas secara umum, kecuali perbedaan bahwa obesitas pada anak menimbulkan penyulit lebih dini. Dalam suatu studi ditemukan bahwa 50% anak berumur 2-15 tahun telah memiliki plak di arteri koroner mereka. Selain itu ukuran plak berkorelasi positif dengan indeks massa tubuh dan kadar lipoprotein. Artinya pola hidup yang salah dan obesitas akan meningkatkan kecenderungan seorang anak mengalami aterosklerosis, yaitu pengerasan dinding pembuluh darah akibat timbunan plak. Aterosklerosis terjadi bersamaan dengan kerusakan dinding pembuluh darah. Di samping itu pola makan berlebihan yang tinggi kalori juga memicu terjadinya diabetes lebih cepat.
Berikutnya di Obesitas pada Anak bagian 2:
Setelah memahami apa penyebab dan dampak yang dapat disebabkan oleh obesitas, kita akan membahas tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak-anak.
Referensi:
Council on Sports Medicine and Fitness and Council on School Health. Active Healthy Living: Prevention of Childhood Obesity Through Increased Physical Activity. Pediatrics 2006; 117 (5): 1834-42.
Miller J, Rosenbloom A, Silverstein J. Childhood Obesity. J Clin Endocrinol Metab 2004, 89(9): 4211–4218
hn/mad/ts/016/A/q1-11
Obesitas pada Anak: Mencegah dan Menanggulanginya (Bagian 2)
Sebelumnya di Obesitas pada Anak bagian 1:
Obesitas adalah suatu masalah kesehatan global yang dapat berdampak serius pada kesehatan maupun psikis anak, bahkan sampai ke masa remaja dan dewasanya nanti. Apa sajakah yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah dan menanggulanginya?
Obesitas atau tidak?
Untuk orang dewasa, memastikan obesitas akan lebih mudah dengan rumus indeks massa tubuh (body mass index, BMI), yang dihitung dengan cara membagi berat badan dalam kg dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter. Pada anak besar, rumus ini dapat digunakan juga. Tetapi pada anak umumnya dipakai kurva pertumbuhan. Kurva ini serupa dengan kurva yang terdapat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Seorang anak dinyatakan obesitas apabila berat badannya berada di atas persentil 95 untuk umurnya ataupun tingginya; dan dinyatakan overweight (berat badan berlebih) apabila berat badannya berada di antara persentil 85 dan 95.
Apa yang dapat dilakukan
Anjuran terpenting untuk menanggulangi obesitas pada anak adalah pengelolaan aktivitas fisik dan diet (makanan). Anjuran pengelolaan aktivitas fisik dalam mencegah obesitas menurut American Academy of Pediatrics (2006):
1. Jangan perkenalkan televisi kepada bayi dan anak berumur kurang dari 2 tahun tidak diperkenalkan pada televisi terlebih dahulu. Setelah itu boleh, tetapi batasi jam menonton televisi (maksimal 2 jam per hari).
2. Ajak anak bermain di luar rumah. Pada usia batita tentunya semua dilakukan di bawah pengawasan orang tua. Permainan boleh mulai menggunakan konsep eksplorasi, eksperimen, serta kesenangan anak saat anak memasuki usia 4-5 tahun. Olahraga terstruktur seperti sepakbola, kasti, basket, dan hoki boleh diperkenalkan setelah anak masuk usia sekolah dasar. Kepada remaja sudah dapat dibiasakan untuk berolahraga yang penting untuk kebugaran tubuhnya (contoh: lari pagi, yoga, sepeda, jalan kaki).
3. Jaga lingkungan di dalam rumah agar memungkinkan bagi anak untuk bermain; khususnya pada anak balita.
4. Anjurkan anak untuk berjalan bersama orang tuanya sejak dini. Jangan dibiasakan menggendong anak terus-menerus. Kurangi kebiasaan naik mobil bersama anak jika ingin bepergian ke tempat yang dekat, ataupun kebiasaan mendudukkan anak dalam troli belanjaan.

Jika anak sudah telanjur mengalami obesitas, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:
- Pengaturan diet: batasi porsi makan, kurangi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kalori (seperti minuman soda, fast-food), dan kurangi cemilan. Pembatasan diet saja biasanya jarang berhasil menurunkan berat badan; karena harus ditunjang dengan olahraga.
- Olahraga: dianjurkan melakukan olahraga 60 menit sehari, intensitas sedang, dan dilakukan 7 hari dalam seminggu. Setelah berat badan turun, pertahankan aktivitas dengan olahraga 30 menit sehari, intensitas sedang, 5-7 hari dalam seminggu.
- Jika perlu konsultasikan kondisinya dengan dokter anak Anda.
Referensi:
Council on Sports Medicine and Fitness and Council on School Health. Active Healthy Living: Prevention of Childhood Obesity Through Increased Physical Activity. Pediatrics 2006; 117 (5): 1834-42.
Miller J, Rosenbloom A, Silverstein J. Childhood Obesity. J Clin Endocrinol Metab 2004, 89(9): 4211–4218
hn/mad/ts/016/B/q1-11